Sunat Bayi Perempuan, Adakah Manfaat dan Apa Bahayanya?

  • July 5, 2022

Sunat bayi perempuan merupakan hal yang kontroversial hingga sekarang. Pasalnya, praktik ini terbukti membawa banyak masalah dibanding manfaat. Dalam istilah medis, sunat bayi perempuan disebut dengan female genital mutilation.

Lebih dari 200 juta wanita telah melakukan prosedur ini, mayoritas dari mereka berasal dari Afrika dan Timur Tengah. Mayoritas para wanita tersebut disunat sebelum berusia 15 tahun atau saat masih bayi. 

Apa Itu Sunat Bayi Perempuan? 

Sunat perempuan adalah prosedur pengangkatan sebagian atau seluruh alat kelamin wanita non-medis, bagian yang dibuang tidak hanya kulup atau lipatan kulit yang mengelilingi klitoris bahkan sampai klitorisnya pun dibuang. 

Alasan dilakukannya sunat ini adalah karena faktor sosial dan budaya. Di beberapa tempat, sunat merupakan syarat seorang wanita sebelum menikah. Sejak 1997, prosedur ini resmi dilarang WHO karena berdampak buruk bagi kesehatan. 

Tipe Sunat Bayi Perempuan 

Praktik sunat bayi perempuan dianggap membawa dampak negatif dan juga merupakan suatu bentuk pelanggaran hak asasi manusia. Sayangnya, masih banyak orang yang melakukan prosedur ini. 

Secara umum sunat bayi perempuan dikategorikan menjadi 4 tipe ,yaitu: 

  • Sunat perempuan tipe 1 (clitoridectomy) 

Sunat ini dilakukan dengan cara mengangkat sebagian atau seluruh kelenjar klitoris, yaitu pada bagian luar yang terlihat dari klitoris atau kulit klitoris. Klitoris merupakan bagian paling sensitif dari alat kelamin wanita. 

  • Sunat perempuan tipe 2 (excision)

Sunat ini dilakukan dengan cara mengangkat sebagian atau seluruh kelenjar klitoris beserta labia minora dengan atau tanpa pengangkatan labia mayora. 

  • Sunat perempuan tipe 3 (infibulation) 

Sunat ini dikenal juga dengan tindakan menyempitkan lubang vagina dengan cara membuat segel penutup. Segel ini dibuat dengan proses memotong dan mengatur ulang posisi labia minora atau labia minora. Terkadang, sunat jenis ini disertai prosedur jahitan dengan atau tanpa membuang kelenjar klitoris. 

  • Sunat perempuan tipe 4 

Khusus tipe terakhir ini tanpa adanya unsur medis, sunat dilakukan dengan cara lebih ekstrim, yaitu dengan cara mengikis, memotong, menusuk, atau membakar dengan tujuan merusak alat kelamin wanita. 

Hingga saat ini, sekitar 90% kasus sunat wanita merupakan tipe 1,2, dan 4. Adapun 10% sisanya menjalani sunat tipe 3. Khusus bayi perempuan yang menjalani sunat tipe 3, suatu hari nanti ketika ia dewasa hendak menikah atau melahirkan harus menjalani operasi pembukaan ulang yang menyakitkan. 

Bahaya Sunat Bayi Perempuan 

Sunat perempuan bukannya memberikan manfaat bagi kesehatan justru malah membawa dampak buruk. Belum lagi, prosedur ini juga melanggar HAM karena prosesnya menyakiti organ genital wanita sehat dan normal. 

Tidak hanya fungsi alami alat kelamin yang terganggu, bahaya sunat bayi perempuan juga memberikan dampak negatif yang bisa diterima tubuh bayi perempuan,  di antaranya sebagai berikut: 

  • Rasa sakit luar biasa 
  • Terjadinya pendarahan berlebih 
  • Demam
  • Pembengkakan jaringan genital wanita 
  • Infeksi 
  • Terjadi masalah saat buang air kecil atau berkemih 
  • Gangguan penyembuhan luka pada daerah yang disunat 
  • Kematian 

Selain beberapa efek negatif sunat  bayi perempuan di atas, masih ada beberapa risiko komplikasi yang bisa terjadi seperti berikut: 

  • Kesehatan vagina terganggu dan mulai muncul masalah, seperti keputihan, bacterial vaginosis, dan timbulnya rasa gatal 
  • Terbentuknya jaringan parut dan keloid 
  • Timbulnya masalah menstruasi, seperti kesulitan mengeluarkan darah menstruasi 
  • Risiko mengidap kista dan terganggunya kesuburan alat reproduksi 
  • Kesulitan ketika berhubungan seksual dan timbulnya rasa nyeri atau tidak nyaman
  • Risiko persalinan menjadi lebih tinggi, seperti kesulitan bersalin 
  • Meningkatkan risiko kematian bayi baru lahir 
  • Masalah psikologis, seperti trauma dan depresi 

Berdasarkan data dari WHO, biaya pengobatan yang dikeluarkan untuk mengobati masalah komplikasi dari sunat bayi diperkirakan hingga kini mencapai US$1,4 miliar atau setara dengan Rp20 triliun. 

Sunat bayi perempuan sebaiknya tidak dilakukan jika kondisi alat kelaminnya normal. Mengubah bentuk atau melukainya secara sengaja bukannya membawa manfaat justru malah membawa dampak buruk yang serius.

bayi alergi susu sapi

Jangan Panik, Kenali Ciri-ciri Bayi Alergi Susu Sapi

  • February 10, 2022

Bayi alergi susu sapi adalah salah satu hal yang sering terjadi. Namun bagi sebagian ibu yang baru memiliki bayi, terkadang hal ini membuat suatu kekhawatiran tersendiri. Sebab, bayi alergi susu sapi dapat menyebabkan beberapa hal yang dapat mengganggu kenyamanan bayi. Tapi seperti apa sebenarnya ciri-ciri bayi alergi susu sapi yang perlu ibu ketahui? Yuk simak informasinya agar ibu tidak khawatir lagi.

Kenali alergi susu sapi sejak dini
Alergi susu sapi pada bayi umumnya disebabkan oleh protein atau laktosa yang ada dalam kandungan susu sapi. Presentase bayi mengalami alergi susu sapi sebesar 7% untuk bayi di bawah usia satu tahun. Alergi susu sapi pada bayi dapat dilihat dari respon yang diberikan tubuh bayi sesaat setelah mengonsumsi susu sapi.

Apa saja penyebab bayi alergi susu sapi?
Selain kandungan protein dan laktosa yang ada pada susu sapi, penyebab bayi alergi susu sapi dapat dipicu oleh beberapa hal lain, seperti:

  • Kelainan sistem kekebalan tubuh bayi
  • Memiliki riwayat alergi lainnya pada bayi
  • Memiliki penyakit dermatitis atopik
  • Memiliki keturunan alergi susu sapi dari orang tua
  • Memiliki sistem pencernaan yang masih belum siap untuk susu sapi
  • Memiliki sindrom enterokolitis

Selain dari beberapa hal di atas, bayi alergi susu sapi juga dapat disebabkan oleh pemberian susu sapi yang terlalu dini. Sehingga tubuh bayi secara otomatis tidak siap memproses susu sapi dan menyebabkan alergi.

Bagaimana ciri-ciri bayi alergi susu sapi?
Ciri-ciri bayi alergi susu sapi biasanya akan muncul dan dapat dirasakan, tergantung pada onsetnya. Onset alergi susu sapi pada bayi umumnya dibagi menjadi dua, yaitu:

  • Onset cepat (terjadi secara langsung setelah pemberian susu sapi)
  • Onset lambat (terjadi secara perlahan-lahan dan cenderung tertunda)

Beberapa ciri-ciri bayi alergi susu sapi adalah sebagai berikut:

  • Munculnya ruam dan kemerahan pada kulit
  • Munculnya reaksi gatal pada kulit seperti biduran
  • Munculnya bengkak pada bibir, wajah, mata, dan eksim
  • Munculnya masalah pencernaan seperti mual, muntah, nyeri perut, dan diare
  • Munculnya rinitis alergi seperti pilek atau hidung tersumbat

Bagi ibu yang memiliki bayi alergi susu sapi harus dapat memperhatikan ciri-ciri tersebut. Apabila bayi memiliki ciri-ciri yang lebih parah seperti:

  • Mulut bayi mengalami pembengkakan dan menyebar ke area lidah serta tenggorokan
  • Mengalami kesulitan saat bernafas dan nafas berbunyi
  • Wajah tampak pucat dan mengalami penurunan kesadaran

Segeralah hubungi dokter spesialis anak untuk mendapatkan penanganan medis yang tepat saat mengalami alergi parah.

Apa bahaya bayi alergi susu sapi?
Jika bayi mengalami alergi susu sapi, bayi memiliki risiko berbahaya yang dapat mengancam kesehatannya. Beberapa bahaya bayi alergi susu sapi antara lain, yaitu:

  • Malnutrisi atau kurangnya nutrisi akibat tidak mengonsumsi susu sapi
  • Mengalami penurunan berat badan
  • Mengalami alergi makanan lainnya
  • Mudah mengalami demam dan penyakit lainnya
  • Mengalami komplikasi alergi

Jika bayi memiliki alergi susu sapi, berkonsultasilah dengan dokter agar mendapatkan penanganan yang tepat untuk kesehatan dan pertumbuhan bayi.

Alternatif susu sapi bagi pertumbuhan bayi
Bayi alergi susu sapi dapat diberikan alternatif lain selain susu sapi untuk mendukung pertumbuhannya. Beberapa alternatif susu sapi, yaitu:

  • ASI ekslusif dari ibu
  • Susu formula hypoallergenic
  • Susu formula soya atau kedelai

Namun, ada baiknya berkonsultasi terlebih dahulu pada dokter dan tim medis lainnya agar bayi mendapatkan asupan nutrisi yang cukup dan sesuai dengan kebutuhan harian bayi.