Simak 7 Cara Mengatasi Ruam Popok pada Bayi

  • March 7, 2022

Jika kamu memiliki bayi mungkin tidak jarang melihat bagian belakang bayi terdapat ruam. Biasanya ruam ini berupa kemerahan dan gatal-gatal yang membuat bayi kamu rewel. Umumnya gangguan ini disebut ruam popok.

Kamu tidak perlu takut, di artikel ini akan dijabarkan penjelasan mengenai ruam popok dan cara mengatasi ruam popok pada bayi. Yuk, baca ulasan berikut ini.

Apa itu ruam popok?

Ruam popok merupakan kondisi yang umum terjadi pada bayi. Keadaan ini terjadi akibat iritasi kulit di area yang sering tertutup popok terutama di bagian pantat dan alat kelamin. Namun, ruam juga bisa ditemukan di bagian lain seperti di paha.

Jika bayi kamu menunjukkan rasa kesakitan, tidak nyaman maupun merengek, bisa jadi bayi sedang mengalami ruam popok. Kamu tidak perlu panik, ada ragam cara mudah mengatasi ruam popok pada bayi.

Penyebab ruam popok

Ruam popok diakibatkan oleh beberapa hal, seperti berikut ini:

  1. Gesekan pada popok

Terus-terusan menggunakan popok tentunya semakin besar gesekan terjadi. Ini lah yang menimbulkan risiko ruam popok semakin besar. Apalagi jika kualitas popok tidak bagus bisa menimbulkan iritasi pada kulit bayi. 

  1. Iritasi karena kotoran

Menurut studi, kotoran yang dikeluarkan bayi seperti air kencing dan tinja juga memicu kemungkinan besar ruam popok. Popok digunakan terlalu lama dan tidak diganti segera saat bayi telah mengeluarkan kotoran.

  1. Infeksi bakteri dan jamur

Kondisi lembab merupakan pemicu utama timbulnya infeksi bakteri dan jamur. Bagian yang rawan muncul infeksi tersebut adalah paha, bokong, dan alat kelamin.

Ciri-ciri ruam popok

Kamu wajib mengetahui ciri-ciri ruam popok jika terjadi pada bayimu, simak ciri-cirinya di bawah ini:

  • Bintik-bintik merah pada bagian rawan
  • Ukuran bintik-bintik makin membesar
  • Kulit kering hingga mengelupas
  • Kulit bayi memerah
  • Bayi tidak merasa nyaman saat mengeluarkan kotoran

Apakah ruam popok berbahaya?

Sebagai orang tua, kamu pasti sangat takut jika ruam popok membahayakan bayi. Namun, kamu tidak perlu terlalu khawatir karena ada beberapa solusi untuk menyembuhkan ruam popok pada bayi. Penyakit ini sangat umum terjadi bayi, apalagi jika kulit bayi sangat sensitif.

Alangkah baik jika kamu juga berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui secara pasti kondisi yang dialami bayi dan mendapatkan solusi terbaik untuk mengatasi ruam popok.

Cara mengatasi ruam popok pada bayi

Berikut adalah cara yang bisa kamu terapkan untuk mengobati ruam popok pada bayi, yuk simak!

  1. Cuci tanganmu hingga bersih sebelum mengganti popok bayi
  2. Sesuaikan ukuran popok dengan bayi agar tidak terlalu ketat maupun longgar
  3. Segera ganti popok jika bayi telah mengeluarkan kotoran
  4. Bersihkan area pantat, kelamin, dan paha bayi dengan sabun
  5. Setelah dibersihkan, pastikan area rawan benar-benar kering
  6. Oleskan krim khusus ruam popok pada area rawan
  7. Tunggu olesan krim tersebut mengering kemudian pasangkan popok baru

Salep ruam popok

Untuk mempercepat pemulihan ruam popok, gunakan salep terbaik untuk mengatasi ruam popok pada bayi. Berikut adalah salep-salep ruam popok pada bayi:

  • Salep hidrokortison
  • Salep zinc oxide
  • Krim antijamur
  • Krim antibiotik
  • Petroleum jelly

Demikian ulasan mengenai cara mengatasi ruam popok pada bayi. Semoga bayi kamu lekas membaik, ya!

Perhatikan Cara Menjemur Bayi yang Benar Menurut Ahli

  • March 7, 2022

Bagi kamu yang baru melahirkan atau punya bayi, menjemur bayi di bawah sinar matahari adalah salah satu rutinitas baru. Namun, tahukah kamu jika menjemur bayi tidak boleh asal-asalan? Pasalnya jika kamu menjemur bayi tanpa menilik cara-cara terlebih dahulu bisa mengakibatkan kerusakan kulit pada bayi.

Oleh karena itu, penting bagi kamu dan pasanganmu untuk mengetahui ilmu tata cara menjemur bayi yang benar. Ada beberapa hal yang bisa kamu terapkan untuk menjemur bayi, simak penjelasan di bawah ini!

Menjemur bayi baru lahir

Menurut studi, di pertengahan abad ke -19 diketahui bahwa paparan sinar matahari memiliki dampak baik terutama bagi penderita penyakit rickets atau penyakit kelainan tulang akibat kekurangan vitamin D, fosfat, dan kalsium. Selain itu, sinar matahari juga digunakan untuk menyembuhkan bayi yang terkena penyakit kuning dengan menjemur bayi dari dalam ruangan melalui jendela selama 10 menit.

Di sisi lain, jika menjemur bayi di bawah paparan sinar matahari terlalu lama dapat membaa dampak negatif seperti mengakibatkan kanker kulit. Oleh karena itu, penting bagi kamu untuk tahu cara-cara menjemur bayi yang benar. Agar manfaat dari sinar matahari bisa bayi peroleh.

Manfaat menjemur bayi baru lahir

Menurut studi, vitamin D yang dihasilkan oleh sinar matahari dapat membntu menyerap fosfor dan kalsium dari makanan yang berguna untuk pertumbuhan gigi dan tulang. Masih banyak manfaat-manfaat lain yang bisa bayi peroleh, seperti berikut:

  • Menjaga kesehatan otot
  • Menambah hormon serotonin
  • Meningkatkan insulin di dalam tubuh
  • Membantu regulasi hormon melatonin
  • Menghindari dari penyakit diabetes saat dewasa
  • Membangun sistem tubuh yang lebih kuat
  • Mencegah berbagai penyakit akibat kekurangan vitamin D
  • Menyembuhkan penyakit kuning ringan

Cara menjemur bayi dengan tepat

Manfaat-manfaat tersebut akan tercapai jika kamu menjemur bayi dengan benar dan tepat. Pastikan kamu mengaplikasikan cara-cara di bawah ini:

1. Memilih waktu menjemur yang tepat

Saat kamu akan menjemur bayi, pastikan kamu menghindari waktu dimana sinar matahari mengandung ultraviolet tinggi. jam 7 – 10 pagi adalah waktu yang tepat untuk menjemur bayi.

2. Tidak melepas pakaian

Kamu tidak perlu melepas baju bayi saat menjemur. Dokter justru menyarankan agar bayi tetap menggunakan pakaian saat dijemur, tidak hanya pakaian saja tetapi pakaikan topi dan tabir surya untuk bayi. Vitamin D tetap terserap dengan baik meskipun bayi menggunakan pakaian.

Melepas pakaian bayi saat menjemur dikhawatirkan potensi kerusakan kulit pada bayi hingga memicu munculnya kanker kulit pada bayi. Jika kamu tidak ingin bayi menggunakan tabir surya, kamu tidak perlu mengoles tabir surya pada bayi. Usia di bawah 6 bulan sebaiknya tidak menggunakan tabir surya karena kulitnya yang masih sensitif. Namun, jika bayi berusia 6 bulan di atas, kamu dibolehkan mengolesi tabir surya pada bayi dengan minimal SPF 15. 

3. Gunakan pelindung mata

Bayi masih sangat sensitif terutama bagian mata jika terkena langsung paparan sinar matahari. Gunakan kacamata bayi agar retina mata tidak dipengaruhi sinar matahari.

4. Perhatikan sensitifitas kulit bayi

Jika bayimu memiliki sensitifitas kulit yang tidak umum seperti bayi biasanya, alangkah baik jika kamu mengkonsultasikan terlebih dahulu pada dokter sebelum menjemur bayi. Dokter akan memberikan saran-saran tepat untuk menjemur bayi. Jika kamu menggunakan kehendakmu sendiri, dikhawatirkan memicu kerusakan kulit pada bayi yang memiliki sensitifitas kulit.

5. Usia bayi 

Cara menjemur bayi berbeda-beda berdasarkan usia bayi. Menurut studi, usia bayi 0 – 6 bulan tidak dibolehkan dijemur di bawah paparan sinar matahari secara langsung. Konsultasikan pada dokter untuk penjemuran yang tepat bagi bayi berusia 0 hingga 6 bulan. Sedangkan usia 6 bulan ke atas dibolehkan dijemur di bawah paparan sinar matahari secara langsung.

Tips menjemur bayi secara aman

Ada beberapa tips yang bisa kamu terapkan agar bayi tetap aman saat dijemur, simak penjelasan berikut ini:

1. Posisi menjemur bayi

Perhatikan posisi menjemur bayi dengan benar. Kamu bisa menggendong bayi maupun meletakkan bayi dalam posisi tidur. Pastikan bayi terlihat nyaman saat dijemur.

2. Gunakan stroller

Selain menggendong atau meletakkan bayi dalam posisi tidur, kamu juga bisa meletakkan bayi di dalam stroller selama dijemur. Ini juga akan memudahkan kamu menjemur bayi tanpa rasa lelah dan khawatir tempat yang tidak bersih.

3. Menjemur sebelum mandi

Alangkah baik jika kamu memandikan bayi setelah berjemur pagi. Kebiasaan ini membuat bayi kamu lebih bersih dan terlihat segar. 

Berapa lama menjemur bayi?

Menjemur bayi yang baik dibutuhkan waktu sekitar 10 hingga 30 menit di pagi hari. Durasi tersebut bisa disesuaikan lagi dengan kondisi geografis tempat yang kamu tinggali. Kamu bisa menjemur bayi sebanyak 6 kali dalam seminggu atau total 60 menit dalam seminggu. Jangan menjemur bayi terlalu lama agar tidak menimbulkan penyakit-penyakit yang membahayakan bayi.

Cara-cara tersebut bisa kamu aplikasikan saat menjemur bayi. Supaya lebih aman, kamu bisa berkonsultasi pada dokter agar lebih meyakinkan.

bayi alergi susu sapi

Jangan Panik, Kenali Ciri-ciri Bayi Alergi Susu Sapi

  • February 10, 2022

Bayi alergi susu sapi adalah salah satu hal yang sering terjadi. Namun bagi sebagian ibu yang baru memiliki bayi, terkadang hal ini membuat suatu kekhawatiran tersendiri. Sebab, bayi alergi susu sapi dapat menyebabkan beberapa hal yang dapat mengganggu kenyamanan bayi. Tapi seperti apa sebenarnya ciri-ciri bayi alergi susu sapi yang perlu ibu ketahui? Yuk simak informasinya agar ibu tidak khawatir lagi.

Kenali alergi susu sapi sejak dini
Alergi susu sapi pada bayi umumnya disebabkan oleh protein atau laktosa yang ada dalam kandungan susu sapi. Presentase bayi mengalami alergi susu sapi sebesar 7% untuk bayi di bawah usia satu tahun. Alergi susu sapi pada bayi dapat dilihat dari respon yang diberikan tubuh bayi sesaat setelah mengonsumsi susu sapi.

Apa saja penyebab bayi alergi susu sapi?
Selain kandungan protein dan laktosa yang ada pada susu sapi, penyebab bayi alergi susu sapi dapat dipicu oleh beberapa hal lain, seperti:

  • Kelainan sistem kekebalan tubuh bayi
  • Memiliki riwayat alergi lainnya pada bayi
  • Memiliki penyakit dermatitis atopik
  • Memiliki keturunan alergi susu sapi dari orang tua
  • Memiliki sistem pencernaan yang masih belum siap untuk susu sapi
  • Memiliki sindrom enterokolitis

Selain dari beberapa hal di atas, bayi alergi susu sapi juga dapat disebabkan oleh pemberian susu sapi yang terlalu dini. Sehingga tubuh bayi secara otomatis tidak siap memproses susu sapi dan menyebabkan alergi.

Bagaimana ciri-ciri bayi alergi susu sapi?
Ciri-ciri bayi alergi susu sapi biasanya akan muncul dan dapat dirasakan, tergantung pada onsetnya. Onset alergi susu sapi pada bayi umumnya dibagi menjadi dua, yaitu:

  • Onset cepat (terjadi secara langsung setelah pemberian susu sapi)
  • Onset lambat (terjadi secara perlahan-lahan dan cenderung tertunda)

Beberapa ciri-ciri bayi alergi susu sapi adalah sebagai berikut:

  • Munculnya ruam dan kemerahan pada kulit
  • Munculnya reaksi gatal pada kulit seperti biduran
  • Munculnya bengkak pada bibir, wajah, mata, dan eksim
  • Munculnya masalah pencernaan seperti mual, muntah, nyeri perut, dan diare
  • Munculnya rinitis alergi seperti pilek atau hidung tersumbat

Bagi ibu yang memiliki bayi alergi susu sapi harus dapat memperhatikan ciri-ciri tersebut. Apabila bayi memiliki ciri-ciri yang lebih parah seperti:

  • Mulut bayi mengalami pembengkakan dan menyebar ke area lidah serta tenggorokan
  • Mengalami kesulitan saat bernafas dan nafas berbunyi
  • Wajah tampak pucat dan mengalami penurunan kesadaran

Segeralah hubungi dokter spesialis anak untuk mendapatkan penanganan medis yang tepat saat mengalami alergi parah.

Apa bahaya bayi alergi susu sapi?
Jika bayi mengalami alergi susu sapi, bayi memiliki risiko berbahaya yang dapat mengancam kesehatannya. Beberapa bahaya bayi alergi susu sapi antara lain, yaitu:

  • Malnutrisi atau kurangnya nutrisi akibat tidak mengonsumsi susu sapi
  • Mengalami penurunan berat badan
  • Mengalami alergi makanan lainnya
  • Mudah mengalami demam dan penyakit lainnya
  • Mengalami komplikasi alergi

Jika bayi memiliki alergi susu sapi, berkonsultasilah dengan dokter agar mendapatkan penanganan yang tepat untuk kesehatan dan pertumbuhan bayi.

Alternatif susu sapi bagi pertumbuhan bayi
Bayi alergi susu sapi dapat diberikan alternatif lain selain susu sapi untuk mendukung pertumbuhannya. Beberapa alternatif susu sapi, yaitu:

  • ASI ekslusif dari ibu
  • Susu formula hypoallergenic
  • Susu formula soya atau kedelai

Namun, ada baiknya berkonsultasi terlebih dahulu pada dokter dan tim medis lainnya agar bayi mendapatkan asupan nutrisi yang cukup dan sesuai dengan kebutuhan harian bayi.